Jaksa di nilai Tak Konsisiten dalam Kasus Ferdy sambo

Jaksa di nilai Tak Konsisiten dalam Kasus Ferdy sambo
fonis ferdy sambo

Jakarta, JNews

Ferdy sambo telah divonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta selatan. “Menjatuhkan pidana kepada terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana mati,” kata Hakim Ketua Wahyu Iman Santosa di PN Jakarta Selatan, Senin (13/02)

Beberapa Opini publikpun beredar. Tak terkecuali Penilaian terhadap Tuntutan Jaksa yang menuntut ferdy sambo di tuntut dengan hukuman Seumur Hidup.

Praktisi Hukum Nasrudin, S.H. menilai bahwa jaksa tak konsisten dalam tuntutannya. “FS kan didakwa dengan pembunuhan berencana pasal 340 KUHP. Pasal 340 itu ancaman hukuman terberatnya adalah hukuman mati. FS juga didakwa melakukan obstruction of justice. Saya ga habis fikir, atas pertimbangan apa jaksa tidak menuntut dengan hukuman maksimal.” Tutur Nasrudin

“Pertimbangan jaksa kan sudah jelas, menghilangkan nyawa korban, berbelit-belit dan tidak mengakui perbuatannya, menyebabkan kegaduhan di masyarakat, dinilai tidak sepantasnya melakukan pembunuhan dalam kedudukannya sebagai petinggi Polri, mencoreng nama baik institusi Polri, menyebabkan banyak anggota Polri turut terlibat. Terus apa yang menjadi pertimbangan jaksa tidak menuntut dengan hukuman maksimal? Sementara jakasa nuntut Eliezer dengan ancaman 12 tahun penjara, dan di kabulkan sama majelis hakim Cuma 1,6 tahun penjara, jaksa ga banding tuh. Itulah kenapa saya bilang jaksa ga komitmen dalam menuntut pelaku” lanjutnya.

Nasrudin juga mengatakan bahwa Masyarakat pencari keadilan masih sangat berharap Kejaksaan RI dapat mewakili para pencari keadilan untuk mendapatkan keadilan yang seadil adilnya. “Jaksa itu kan pengacara negara, tentu masyarakat pencari keadilan menggantungkan untuk mendapatkan keadilan pada jaksa dalam berperkara di pengadilan. Karena yang bisa menuntut atas perkara pidana itu kan jaksa. Tugas jaksa hanya membangun argumentasi hukum. Putusan tetap di tangan majelis hakim.” Tuturnya.

Tak hanya kasus Ferdi sambo yang di kritisi oleh pengacara muda ini. Kasus Penggelapan dana KSP Indosuraya-pun dihubungkan dalam perkara ini.

“Coba sedikit flashback terkait kasus KSP Indo surya, Jaksa kan nuntut 20 tahun penjara dan denda 200 milyard, sementara putusan hakim terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan, tetapi bukan merupakan tindak pidana, melainkan perkara perdata. Gimana itu jaksa dalam membuat tuntutan. Bikin tuntutan itu kan makanan mereka sehari-hari. Dan  mereka kan lulusan-lulusan terbaik dari berbagai universitas. Kok bisa bikin tuntutan sampe di tolak majelis hakim

“saya berharap, kedepan Kejaksaan agung sebagai institusi tertinggi di kejaksaan dapat mengefaluasiKembali demi tegaknya keadilan di masyarakat.” Tandasnya.

(r)